Once upon a time…
Drawn from: FRP World, Present world story, Guardian, Woman vs Self Conflict. Told in Indonesian.
Di pagi yang berkabut di FRP World—sebuah kota yang tumbuh dari jejak pabrik tua dan kantor-kantor startup yang cepat berganti nama—Rani menatap wajahnya di kaca jendela angkot. Ia mengenakan kerudung krem, rapi, tapi sudut bibirnya kaku. Angkot berguncang melewati kios sayur, halte yang catnya mengelupas, dan mural warna-warni tentang ekonomi kreatif yang belum sempat berakar. Dari ponsel yang ia genggam, notifikasi rapat jam sembilan berkedip-kedip seperti peringatan dini bencana kecil.
Rani sudah tiga tahun menjadi analis di sebuah perusahaan riset kebijakan publik yang berkantor di FRP Plaza, menara kaca biru dengan lobby yang selalu berbau kopi dan pendingin ruangan. Tugasnya minggu ini: menyusun laporan tentang dampak relokasi pasar tradisional menjadi pasar semi-digital—program kota yang kerap disebut warganet sebagai “pasar pintar yang pintar menyulitkan.” Di dokumen 78 halaman di laptopnya, ada angka-angka yang rapi, grafik yang manis, dan—ini yang membuatnya gelisah—kalimat penutup yang terasa seperti menutup mata.
Masalahnya bukan pada data. Data itu benar, sesuai survei, lengkap. Masalahnya adalah pada Rani sendiri, pada cara ia menatap dirinya ketika mematikan layar.
Di hari yang sama, ibunya berkirim pesan: “Jangan lupa mampir sore ini, bawa roti tawar ya.” Rani mengetik balasan cepat: “Iya, Bu.” Ada rasa melesak yang tidak nyaman setiap kali ibunya meminta hal-hal rumah tangga sederhana. Bukan karena ia enggan, melainkan karena kalimat “mumpung kamu belum sibuk punya keluarga” sering menyusul. Rani 32, lajang, tinggal di kamar kontrakan di belakang toko bahan bangunan yang lampu halaman depannya sakit-sakitan.
Di kantor, ruang rapat kaca seperti akuarium. Rani duduk di kiri, catatan tersebar. Di depannya, ada Mira—atasannya—yang berambut pendek, tajam, dan efisien. Di layar proyektor, presentasi berjudul: “Evaluasi Tahap I, Transformasi Pasar FRP.”
“Angka partisipasi pedagang naik 18 persen,” kata Rani, berusaha membuat suaranya mantap. “Tapi ada penurunan pendapatan rata-rata di tiga bulan pertama sebesar 11 persen. Waktu adaptasi jadi kunci.”
Mira mengangguk. “Itu wajar di fase transisi. Pastikan nada kesimpulan tidak terlalu negatif. Pemerintah kota butuh alasan untuk lanjut ke Tahap II. Kita bukan LSM.”
Rani menelan ludah. Ia memikirkan Pak Rendra, penjual kain di pasar lama yang wajahnya ia simpan di folder foto lapangan, yang ia temui seminggu lalu. Pak Rendra yang bercerita bagaimana pelanggan lamanya tak lagi datang karena lokasi baru sulit dijangkau angkot, bagaimana toko di platform digital tidak berarti jika pembeli tidak punya paket data.
Rani menggeser halaman slide. “Kalau kita mengabaikan penurunan pendapatan, dampaknya bisa lebih besar. Pedagang bisa gulung tikar.”
“Masukkan sebagai risiko yang bisa dimitigasi,” potong Mira halus. “Tapi jangan jadikan headline. Kita sedang—”
Pintu rapat diketuk. Raka, rekan satu divisi yang selalu tampak santai, menyodorkan kopi. “Sorry telat. Lalu lintas gila.”
Mira menyelesaikan rapat dengan daftar tugas. Rani kebagian menyunting kata-kata penutup. “Kamu yang paling halus analisisnya,” kata Mira. “Jangan kalah sama emosimu. Kita kerja pakai data.”
“Data juga punya konteks,” jawab Rani pelan. Tapi suaranya kalah oleh bunyi mesin espresso di pantry.
Siang itu, Rani memutuskan turun ke pasar yang baru. Gedungnya bersih, lantainya mengilap, tapi hawa dingin AC mengambang seperti sungai yang tidak terlihat. Pedagang sayur menata kangkung yang tampak terlalu hijau di bawah lampu putih. Di lorong tengah, layar digital memutar video tutorial cara berjualan online. Suara naratornya terlalu ceria.
Dia bertemu lagi dengan Sari, pedagang bumbu yang dulu lapaknya di pasar lama. Sari tersenyum kecut melihat Rani mendekat. “Mbak, kemarin-kemarin bukan yang nanya soal omzet?”
“Iya, Bu Sari. Gimana sekarang?” Rani mengeluarkan buku catatan.
Sari menunjuk rak bumbu yang rapi. “Lakunya ya segini-segini, Mbak. Yang saya bingung, katanya ini bakal bikin kita maju. Tapi yang datang ke sini banyak yang cuma lihat-lihat, terus beli di minimarket dekat halte. Katanya lebih cepat, bisa sekalian ambil pulsa.”
Rani mencatat, merasa hati kecilnya menggaris bawahi setiap kata. “Ada pelatihan tambahan?”
“Ada, tapi pas jam jualan. Kalau saya ikut, siapa yang jaga?” Sari tertawa pelan. “Saya jadi merasa harus punya dua badan. Satu buat ngikutin zaman, satu buat hidup.”
Rani pulang ke kantor sore harinya dengan kepala penuh. Di mejanya, ada email dari Mira: “Draft kesimpulan perlu disesuaikan. Fokus pada peluang, bukan masalah. Tanda tangan klien Jumat.” Di bawahnya, Rani membaca pesan ibunya: “Kamu jadi? Ibu siapkan sayur asem.”
Langit FRP sore itu berwarna besi. Jalanan ramai dengan kurir berbaju oranye dan biru, membelah debu dan asap seperti ikan-ikan kecil melawan arus. Rani memutuskan mampir ke rumah ibunya dulu, gang sempit dengan pagar besi yang selalu macet saat ditutup.
Ibunya tersenyum lebar melihat roti tawar di tangan Rani. “Alhamdulillah. Kamu kelihatan capek. Kerjaan?”
“Hmm.” Rani duduk, meletakkan ponselnya menghadap bawah. Di ruang tamu yang dindingnya penuh foto keluarga lama, televisi menyiarkan berita tentang transformasi kota FRP: pasar pintar, bus listrik, koridor hijau. “Anak-anak muda kita harus adaptif,” kata pejabat dalam wawancara.
Ibu bersuara dari dapur, “Kamu juga adaptif, kan? Waktu kuliah, kamu bilang mau kerja yang bikin perubahan. Eh, kapan kamu bikin perubahan di hidup sendiri? Masa iya sampai umur segini sendiri terus?” Ia tertawa, setengah bercanda.
Rani tersenyum hambar. “Bu, itu bukan tolak ukurnya.” Tapi suaranya lemah, karena dirinya sendiri belum yakin. Di dinding, foto wisuda S2-nya dari universitas di kota lain tergantung miring. Ia tak pernah punya waktu—atau niat—untuk meluruskannya.
Malam itu, Rani duduk di meja kontrakan, laptop menyala. Dokumen laporan terbuka di bagian “Rekomendasi”. Kursor berkedip. Di kotak kecil di pojok layar, Mira mengetik komentar: “Kalimat ini terlalu alarmis.” Kalimat yang dimaksud Rani tulis: “Tanpa intervensi nyata pada akses, biaya, dan waktu, transformasi berisiko memperlebar jurang.” Rani menatap kata “jurang”, merasa seolah-olah ia yang berdiri di tepinya.
Ia menghapus kata “jurang”. Mengetik: “tantangan.” Menghapus lagi. Jari-jarinya diam di atas keyboard. Di saat seperti itu, ia selalu ingat pada dirinya yang berusia 24, baru lulus, berdiri di depan ruang rapat LSM kecil, bicara tentang keadilan akses. Ia ingat pada antusiasme yang kerap membuatnya menulis di blog sampai tengah malam, menolak tawaran pekerjaan pertama yang memintanya “melunak sedikit demi keberlanjutan kemitraan.”
Sekarang, pada 32, ia bekerja di perusahaan yang kliennya adalah pihak yang dulu ia ajak dialog keras. Gajinya cukup. Ia bisa kirim uang tiap bulan ke ibu. Kontrakan aman. Kesehatannya baik. Tetapi setiap kali membuat konsesi, secuil dirinya seperti jatuh terus menerus ke suatu tempat yang rata dan tenang, tempat yang mematikan suara.
Pukul sebelas malam, Rani menutup dokumen tanpa menyimpan. Ia mematikan lampu kamar, tapi matanya tetap terbuka. Dari jendela, suara motor lewat. Ia berguling, menyalakan ponsel, membuka foto lapangan: Sari di depan lapak, Pak Rendra dengan kain-kainnya, wajah-wajah yang berusaha keras untuk ikut serta. Ia menutup galeri, membuka catatan lama di blognya. Tulisan terakhir tiga tahun lalu: “Mencatat yang Tersisa.” Di situ, Rani menulis tentang pasar lama yang hendak dibongkar, tentang ampas kertas di sudut toko buku bekas. Ia menulis kalimat penutup: “Kalau kita berhenti mencatat, apa yang akan kita ketahui selain versi yang menang?”
Besok paginya, Rani bangun lebih cepat. Ia menatap rambut yang mulai kemerahan di bawah sinar matahari, sebuah cahaya yang belum ada kemarin. Ia memutuskan untuk kembali ke pasar, sekali lagi, sebelum rapat final. Ia membeli bakso dari gerobak di pintu masuk, duduk di bangku plastik, mendengar percakapan dua ibu-ibu yang membahas gadget keluaran terbaru. Sari melambaikan tangan dari jauh; Rani membalas.
Ia merekam suara langkah orang di lantai licin. Ia mendekati petugas keamanan yang menguap di dekat pintu. “Mas, parkir motor di mana?”
“Lantai dua, Mbak. Tapi sering penuh karena kurir-kurir itu.” Ia menunjuk ke sekelompok kurir yang beristirahat sambil menatap layar ponsel. “Mereka nunggu order pick-up.”
“Berarti akses pembeli yang naik motor agak terganggu ya?” kata Rani, lebih kepada dirinya sendiri. Petugas itu mengangguk malas.
Rani menulis catatan terakhir: “Ruang dibagi, waktu dibagi, kita semua sedang antri.”
Di kantor, semua tampak biasa. Mira menunggu di ruang rapat. Raka memutar-mutar pena. Rani membuka laptop, membiarkan presentasi mengapung di layar. Saat giliran membahas rekomendasi, ia merasa napasnya pendek. Ia menatap Mira, menatap rekan-rekan lain, lalu menatap ke arah jendela. Dari lantai 17, kota FRP tampak seperti diagram kotak-kotak: gedung, jalan, tempat kosong yang ditebang.
“Rekomendasi kami,” Rani memulai, “adalah melanjutkan program dengan perbaikan.” Ia berdehem. “Dan kami perlu menyoroti risiko dengan jelas.”
Mira menatap tajam, tapi tidak memotong.
Rani melanjutkan, kali ini dengan suara lebih stabil. “Data menunjukkan penurunan pendapatan dalam tiga bulan pertama. Jika kita tidak intervensi pada akses transportasi, subsidi awal bagi pedagang, serta penyesuaian waktu pelatihan, penurunan ini bisa berlanjut. Di pasar baru, alur pengunjung terganggu karena area parkir digunakan untuk aktivitas pick-up. Ini tampak kecil, tapi efeknya nyata.”
Ia menampilkan dua foto: satu lorong sepi di jam yang biasanya ramai, satu kurva yang menukik. “Saya merekomendasikan penundaan pelaksanaan Tahap II selama enam bulan untuk memastikan mitigasi berjalan. Transformasi perlu kecepatan yang manusiawi.”
Ruangan menjadi dingin sesaat. Raka memain-mainkan pena, tak lagi santai. Mira menautkan jemari, ekspresinya sulit dibaca. “Itu akan memicu reaksi klien,” katanya akhirnya.
“Ya,” jawab Rani. “Tapi itu juga akan menyelamatkan puluhan usaha kecil. Dalam jangka panjang, program akan lebih diterima.”
Ada jeda. Rani merasa jantungnya seperti alat musik tua yang dimainkan sebelum disetem. Bagian dari dirinya ingin menambahkan, “Jika tidak, saya berhenti,” tapi itu teatrikal, dan mungkin tak bertanggung jawab. Ia bukan hero film.
Mira menutup laptop, menghela napas. “Kita orang kebijakan, Rani. Kita tahu cara menulis agar pesan keras bisa masuk.” Ia menatap Rani lama-lama, seperti menimbang. “Masukkan rekomendasi itu. Tapi kita juga perlu narasi yang tetap memberi ruang muka bagi klien. Rangkai ulang.”
Rani mengangguk pelan. Itu bukan kemenangan besar, tapi juga bukan kekalahan. Ia menyalakan laptop, menulis: “Program layak dilanjutkan setelah penyesuaian berikut,” bukan “Program harus ditunda.” Ia menambahkan angka, skenario, timeline. Ia meminjam bahasa yang bisa masuk ke telinga pejabat, tanpa membunuh isi.
Seusai rapat, Rani turun ke lantai dasar, membeli kopi dari barista yang selalu salah menyebut namanya jadi “Rina.” Ia menerima cup kertas dengan nama salah eja, tersenyum. Di ruang duduk lobby, ia membuka ponsel. Ada email dari seorang penulis media lokal: “Mbak Rani, saya baca blog lama Anda. Bisa kah kita wawancara soal pasar tradisional? Kami mau bikin liputan.”
Rani memandang email itu lama. Blog itu. Ia nyaris lupa. Dengan jempol yang ragu, ia mengetik balasan: “Boleh. Tapi saya ingin tetap anonim.” Ia kirim. Ada sesuatu yang berdenyut—bukan rasa menang, hanya rasa kembali bernapas dari bawah air.
Sore itu, ia mampir lagi ke rumah ibunya. Ibu sedang mengupas mangga di teras. “Kok mampir lagi?” tanya Ibu, senang.
“Bawa kabel charger,” jawab Rani, setengah bercanda. Ia duduk, menggigit mangga yang asam-manis. Ibu menatapnya dengan alis terangkat. “Kamu kelihatan beda.”
“Beda gimana?”
“Lebih… enak dilihat.” Ibu tertawa. “Bukan soal suami, ya. Ibu gak bahas itu sekarang.”
Rani juga tertawa. “Terima kasih, Bu.”
“Mbak Wati di ujung gang tadi bilang, anaknya susah cari kerja. Katanya butuh orang yang bantu ajarin cara bikin CV. Kamu bisa?”
Rani mengangguk. “Besok Sabtu, saya sempat.” Dan ia benar-benar berniat melakukannya. Bukan karena itu membuktikan apa pun, tapi karena tangannya ingin menyentuh hal-hal yang membuatnya ingat pada dirinya sendiri.
Malam itu, di kontrakan, ia membuka dokumen laporan lagi. Ia membaca kalimat-kalimatnya tanpa rasa hendak memuntahkannya. Ia menambahkan catatan kaki: sumber penelitian di kota lain, pola yang sama, rekomendasi serupa. Ia menyalakan musik pelan, mematikan notifikasi. Di jarak sekian sentimeter, ponselnya berkedip: pesan dari Raka, “Keren tadi. Berani.” Rani membalas: “Terima kasih. Besok makan siang?”
“Ayo.”
Hari Jumat, klien datang ke kantor. Mereka datang dengan jas, cara bicara yang berputar di sekitar kata-kata seperti “resiliensi” dan “akselerasi.” Rani presentasi. Saat bagian rekomendasi muncul, ruangan terasa seperti naik sedikit suhunya. Seorang pejabat muda meletakkan ponselnya. “Penundaan enam bulan?”
“Kami mengusulkan penyesuaian yang efektif sebelum melangkah,” kata Rani. “Bukan berhenti. Fokus kami agar program benar-benar menyentuh yang terdampak.”
Ada beberapa keberatan. Ada debat. Ada jeda untuk kopi. Pada akhirnya, kepala dinas yang rambutnya beruban mengangguk. “Kita lihat opsi pilot perbaikan di tiga pasar dulu,” katanya. “Jangan ribut di media.” Kalimat itu seperti pisau kecil, tapi Rani memilih untuk menerima tepi tumpulnya. Tiga pasar. Itu cukup untuk mulai.
Setelah rapat, Rani tak pulang langsung. Ia berjalan ke taman kota FRP yang baru jadi, di bawah jembatan yang dicat asri. Ada bangku kayu, anak-anak bermain sepeda. Ia duduk, mengamati. Di seberang, ada mural baru: tangan-tangan yang saling menjinjing. Baginya, mural itu terlalu manis. Tapi ia tidak ingin sinis hari ini.
Benak Rani tidak tenang, tapi tidak juga berperang. Ada pertanyaan yang masih bergema: apakah ia membiarkan dirinya menjauh terlalu jauh dari Rani yang dulu? Apakah kompromi hari ini adalah jalan licin ke bawah? Ia tidak tahu. Yang ia tahu, hari ini ia memilih untuk mengatakan sesuatu ketika ia bisa saja diam. Ia memilih untuk tetap di sini, di ruang yang tidak ideal, sambil berusaha.
Malamnya, di rumah ibunya, Rani membantu menggoreng tempe. Ibu bercerita tentang tetangga, tentang listrik yang turun, tentang ayam yang masuk halaman. Rani mendengarkan, menambahkan garam sedikit. Di televisi, berita lain muncul. Ada gambar pedagang pasar, diwawancarai sebentar tentang kesulitan adaptasi. Suaranya cepat, potongannya pendek. Rani menatapnya, merasa campur aduk.
“Kenapa?” tanya Ibu.
“Enggak, Bu. Cuma capek.”
“Capek juga tanda kamu mengerjakan hidup,” kata Ibu tenang. “Dulu waktu kamu kecil, kamu malas tidur siang. Kamu bilang takut mimpi. Padahal tidur itu perlu. Sekarang kamu takut apa?”
Rani mengangkat bahu. “Takut... berubah jadi orang yang saya tidak kenal.”
Ibu menaruh spatula, menatap Rani lama. “Orang berubah. Yang penting kamu masih mau kenalan lagi.”
Kalimat itu menempel pada Rani lebih lama dari yang ia perkirakan. Ia pulang, menyalakan lampu kecil di samping kasur. Ia membuka laptop, menulis di blognya, untuk pertama kalinya setelah tiga tahun: “Hari ini, aku memilih kata-kata yang bisa masuk tanpa mengosongkan maksud. Mungkin ini caraku tetap di sini, sambil mencatat yang tersisa.” Ia tidak bagikan tautannya, tidak mengumumkannya. Ia hanya menyimpannya untuk dirinya sendiri.
Minggu berikutnya, Rani mengajar adik-adik di ujung gang cara membuat CV. Mereka tertawa ketika Rani mencontohkan kesalahan umum: “Tujuan hidup: kaya raya dan bahagia.” Ia menulis di papan tulis kecil, memberikan contoh yang realistis dan rapi. Di sela-sela kelas, ia mengecek ponsel: ada pesan dari jurnalis lokal. “Artikel tayang besok. Kami jaga anonimitas.”
Dalam hati, Rani berdoa agar artikel itu tidak jadi bumerang di kantor. Tapi ia juga siap, sedikit lebih siap daripada minggu lalu, menerima konsekuensinya. Di kantor, Mira membaca suara hati orang dari gerak-gerik mereka. Mungkin Mira akan tahu, mungkin juga tidak. Yang jelas, Rani tidak lagi ingin menutup mata ketika matanya bisa dibuka.
Di suatu sore yang hujan rintik, Rani lagi-lagi ke pasar. Ia menemukan Sari sedang menatap layar ponsel, wajahnya berkerut fokus. “Lagi daftar dompet digital, Mbak,” kata Sari tanpa diminta. “Ada anak saya ajarin, tapi sinyalnya labil. Katanya nanti kalau order, saya bisa tinggal masukin.”
“Semoga lancar,” kata Rani. Ia membeli bumbu sop, membungkusi pelan. “Bu, nanti kalau pelatihan dijadwal sore, habis pasar, ibu mau ikut?”
Sari tersenyum. “Mau. Kalo kita gak nyoba, nanti kata orang-orang kita yang ketinggalan. Padahal ya bukan maunya juga.”
Rani mengangguk. Ia berjalan keluar pasar, hujan menetesi jaketnya. Angkot berlalu, supirnya melambai malas. Di jalanan, lampu-lampu toko memantul di aspal basah. Ia mengangkat wajahnya ke langit, menyadari bahwa sebagian dari konflik yang ia pikul—tentang integritas, tentang aspirasi, tentang definisi diri—tidak akan pernah selesai. Ia tidak sedang menuju pencerahan yang kering dan final. Ia hanya belajar memegang setir agak lebih kuat saat jalan licin.
Di FRP World, kota yang selalu merasa harus terburu-buru untuk sampai, Rani memilih melambat di beberapa tikungan. Bukan untuk menolak maju, tetapi untuk memastikan roda yang bergerak tidak meninggalkan orang-orang yang bisa saja ia kenal, termasuk dirinya di masa lalu. Dan di malam-malam ketika suara mesin pendingin ruangan berdengung lebih keras daripada pikirannya, ia mengulang-ulang kalimat ibunya: “Yang penting kamu masih mau kenalan lagi.”
Itu menjadi semacam azimat, penahan kecil ketika angin bertiup terlalu kencang. Pada akhirnya, mungkin bukan kemenangan atau kekalahan yang mencatat kita di koran. Mungkin hanya keputusan-keputusan kecil yang, kalau diurut, membentuk sebuah garis. Bukan lurus, tidak juga indah, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa seseorang pernah berusaha berjalan, meski melawan dirinya sendiri yang ingin berhenti. Dan itu, bagi Rani, sementara ini cukup.
Did it land?